Skip to main content

Dialog Diam Bersama Semesta.

Hujan baru saja reda setelah sekian tahun berjatuhan.
Menyisakan genangan pertanyaan di aspal yang berlubang.

Tiada lagi bunyi hujan lebat yang mengalahkan suara semesta dari penjuru lain.
Hujan bukanlah suara satu-satunya yang dimiliki semesta.

Kulirik langit, langit berkata lembut tentang kedamaian kepadaku.
Sebaliknya, didepan ada kota yang berbicara dengan nada tak menentu.
Mobil dengan knalpot racing berteriak keangkuhan dengan pekikan mengalahkan tangis sang sepeda yang berjuang lebih keras dengan kayuhannya.

Tiba-tiba hening.
Ketika pepohonan hidup berdampingan dengan sejuknya.

Aku tetap melempar pertanyaan dengan mulut tertutup kepada semesta.
Semesta mendengarnya.

Dijawab dengan suara pancarona
Tentang bahagia, diperlihatkannya aku dengan mereka yang penuh dengan cinta.
Tentang perjuangan, diperlihatkannya aku dengan ibu-ibu yang tetap berjualan sambil menggendong anaknya.
Tentang kesedihan, diperlihatkannya aku dengan nenek tua ringkih yang mendorong kursi rodanya sendiri.

Dialog paling bersuara adalah dialog dalam diam.


Comments

Popular posts from this blog

Masyarakat Adat Kemantan ; Berbenah Dari Musibah.

Tak terasa kami sudah memasuki tiga minggu terakhir dalam menjalani PKL ini. Artinya, sudah memasuki minggu ke enam kami belajar langsung tentang praktik pengelolaan hutan di tingkat tapak yang dilakukan oleh KPH. Sesuai jadwal, minggu ke enam adalah jadwal kami untuk melihat potensi ekowisata yang ada dalam kawasan KPHP Kerinci. Pada hari ini, tanggal 28 Juli 2020, jadwal kami adalah melihat potensi ekowisata yang ada di Hutan Adat Tigo Luhah Kemantan. saya tidak begitu tahu banyak perihal hutan adat yang ada di kemantan ini. setelah saya coba cari tahu di internet, saya takjub karena ternyata hutan adat yang ada di kemantan ini merupakan hutan adat pertama yang ada di indoensia yang di sahkan oleh menteri LHK pada tahun 2016.  Saya bersama teman-teman yang lain, disambut baik oleh ketua adat tigo luhah kemantan di rumahnya. setelah berbincang sebentar dan mengisi buku tamu, kami bergegas untuk melakukan perjalanan menuju air terjun yang ada di dalam hutan adat. perjalanan ini, ka...

Buku Hijau

Untukmu saksi bisu. Denganmu garis-garis perjuangan ku ukirkan. Denganmu bait-bait cinta kurangkaikan. Denganmu segala sendu kusampaikan. Dan denganmu jutaan semangat ku hamburkan. Kau hanya diam tersenyum melihatku menulis diatasmu. Kaulah sahabat sebenar-benar sahabat. Tidak khianat. Sekarang tetaplah bisu. Tapi nanti setelah aku mati. Ceritakanlah sejarah juang dan mimpi-mimpiku pada manusia dan semesta. Karena aku hanyalah manusia egois yang ingin jiwaku tetap hidup, walau raga telah tiada. Sahabat, kau akan menjadi pemantik perubahan dunia. Terima kasih sahabatku, setia selalu. Walau kita terpisah oleh dimensi ruang dan waktu. ~dorelefendi