Skip to main content

Posts

Mari ucapkan apa-apa yang menjadi mimpi kita. Karena tuhan tidak pernah mengistirahatkan Malaikat-malaikat-Nya untuk mencatat do'a-do'a manusia. Begitu kira-kira kalimat yang dapat aku ucapkan untuk menggambarkan apa yang telah terjadi padaku terakhir ini. Di sebuah warung bakso, duduklah Aku, Andika serta Padli. waktu itu sekitar bulan Agustus tahun 2019. Cengkrama hangat menemani perbincangan kami waktu itu. Semenjak Padli berhenti kuliah, kami memang jarang bertemu. Semua hal kami ceritakan dalam pertemuan kali itu. "Aku pengen ke Padang." Ucapku pada dua sahabatku itu. "Tetatpi aku tidak tahu kapan akan ke sana. Karena memang susah dalam menentukan waktu untuk sebuah perjalanan serta aku juga belum ada tabungan untuk itu." Tambahku. Andika dan Padli juga kelihatan sangat tertarik dengan kalimat pertama ku. mereka juga tetap dengan permasalahan yang sama. Berawal dari sebuah wacana. Kemudian ditanamkan menjadi sebuah niat yang dengan penuh harap suat...

Makademia, Semoga Menjadi Solusi

Perhutanan sosial adalah jawaban dari permasalahan hutan yang ada di Indonesia selama ini. Bagaimana tidak, perhutanan sosial atau yang biasa disingkat menjadi PS bisa masuk ke berbagai aspek permasalahan seperti permasalahan ekologi, permasalahan ekonomi maupun permasalahan sosial dan kelembagaan yang terjadi di masyarakat.   Ketiga aspek pengelolaan tersebut diatasi oleh perhutanan sosial dengan memberikan solusi yang lebih komprehensif dan fleksibel. Permasalahan ekologi contohnya, krisis deforestasi dan degradasi hutan yang dialami dalam dunia kehutanan khususnya dapat ter back up oleh perhutanan sosial karena salah satu prinsip dalam perhutanan sosial memberikan kewajiban kepada masyarakat selaku pelaksana di tingkat tapak untuk memperhatikan pertimbangan keseimbangan ekologis. Diantaranya adalah adanya skema HKM (Hutan Kemasyarakatan) yang mewajibkan penanaman PBPS (Penyediaan Bibit Perhutanan Sosial) di suatu kawasan HKM yang telah diterbitkan SK nya oleh KLHK (Kementria...

Masyarakat Adat Kemantan ; Berbenah Dari Musibah.

Tak terasa kami sudah memasuki tiga minggu terakhir dalam menjalani PKL ini. Artinya, sudah memasuki minggu ke enam kami belajar langsung tentang praktik pengelolaan hutan di tingkat tapak yang dilakukan oleh KPH. Sesuai jadwal, minggu ke enam adalah jadwal kami untuk melihat potensi ekowisata yang ada dalam kawasan KPHP Kerinci. Pada hari ini, tanggal 28 Juli 2020, jadwal kami adalah melihat potensi ekowisata yang ada di Hutan Adat Tigo Luhah Kemantan. saya tidak begitu tahu banyak perihal hutan adat yang ada di kemantan ini. setelah saya coba cari tahu di internet, saya takjub karena ternyata hutan adat yang ada di kemantan ini merupakan hutan adat pertama yang ada di indoensia yang di sahkan oleh menteri LHK pada tahun 2016.  Saya bersama teman-teman yang lain, disambut baik oleh ketua adat tigo luhah kemantan di rumahnya. setelah berbincang sebentar dan mengisi buku tamu, kami bergegas untuk melakukan perjalanan menuju air terjun yang ada di dalam hutan adat. perjalanan ini, ka...

Day 10

Jum`at 26 Juni 2020 Day 10 “Tidak ada kebetulan yang benar-benar kebetulan. Tuhan sebagai sebaik-baiknya penulis, telah menuliskan kisah terindah bagi hamba-hamba-Nya.” Bagian ini saya mulai dengan kata-kata penuh motivasi, penuh dengan penyerahan segalanya kepada Sang Pencipta. Karena saya rasa, semua yang terjadi atas hidup ini bukan hanya tentang hukum sebab akibat yang terjadi di dunia saja melainkan semuanya sudah ditakdirkan oleh yang Maha Menakdirkan. Beberapa hari sebelum tanggal 2 Juni 2020 yang lalu, saya dengan beberapa teman dihubungi oleh Bu Cory yang merupakan ketua tim komisi PKL untuk bersiap-siap melaksanakan praktik kerja lapang (PKL) di PT ABT (Alam Bukit Tiga Puluh) yang berlokasi di Kabupaten Tebo. Saya bersama teman-teman yang lain sangat antusias karena kebetulan kami merupakan tim pertama yang mendapatkan lokasi PKL. Di sisi lain, saya yang merupakan orang Kerinci yang belum pernah ke Tebo sangat bersemangat mengetahui hal ini. Karena saya memang tertarik ...

Day 6

Memasuki minggu ke dua kegitan PKL Tahun 2020. Hari ini, Senin tanggal 22 Juni 2020, kami akan belajar tentang THH (Teknologi Hasil Hutan) di KPHP Kerinci Unit 1. Sesuai yang dijelaskan di minggu sebelumnya mengenai komoditas utama produk HHBK di KPHP Kerinci ini salah satunya adalah kopi. Pertama, Pak Lindung menjelaskan kepada kami bahwa adanaya rumah jemur, Sesuai dengan namanya, rumah jemur ini berfungsi untuk menjemur kopi maupun kayu manis sebelum di olah di tahap selanjutnya. Setelah beliau berbicara mengenai fungsi, tujuan, manfaat rumah produksi, Pak Lindung menyerahkan kami ke Kak Gabe untuk belajar mengenai teknik pengolahan kopi. Mulai dari kopi mentah sampai menjadi kopi yang siap di seduh. Kak Gabe menjelaskan bagamainan tata cara panen kopi dari batangnya sampai bagaimana menjadi penikmat kopi yang baik. "Yang mahal dari kopi adalah prosesnya" ucap kak Gabe. Adalah bagaimaan kita memaksimal dan menikmati proses demi proses. Bagaimana kita memanen buah yang mata...

Day 4

Pagi ini aku tidak berangkat menggunakan motor, tetapi aku di jemput oleh Bang Oze dengan menggunakan mobil pick-up. Karena hari ini kami akan berangkat ke lapangan yaitu menuju areal kerja KPHP Kerinci. lebih tepatnya menuju ke Renah Kayu Embun atau yang biasa di singkat dengan RKE. Bang Kerlin dan Pak Pauza siap menemani perjalanan hari ini. Bang Kerlin berangkat dengan motor trail- nya, Pak Pauzan berangkat dengan menggunakan motor metiknya dan kami, peserta PKL berangkat menggunakan mobil yang dibawa oleh Bang Oze. Pukul 09:00 WIB, kami berangkat dari kantor yang berlokasi di Tanjung Pauh Mudik menuju RKE yang berlokasi di belakang Bukit Khayangan. Setelah membeli logistik, kami langsung berangkat menuju RKE. Setelah melewati perjalanan kurang lebih 20 menit, kami sampai di Resort RKE milik KPHP Kerinci. Disana sudah Bang Kerlin dan Pak Pauzan yang menunggu kami. Dalam perjalanan, kami tidak melihat pemandangan yang disuguhkan dari atas bukit karena tertutup oleh kabut tebal. Biasn...

Day 3

Kolaborasi adalah solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah, LSM (Lembaga Swadaya Masyrakat), Akademisi, temasuk masyarakat itu sendiri mesti bergotong royong bersama-sama untuk meningkatkan kesejahteraan masyrakat. Jika satu kaki saja ada yang terluka, maka jalan untuk menuju masyarakat yang sejahtera akan sulit teracapai.  Pemerintah tidak memiliki kekuatan untuk bergerak sendiri karena keterbatasan pendanaan, tenaga riset dari akademisi serta dukungan dari masyarakat. LSM juga demikian, karena tidak leluasa bergerak tanpa adanya kemudahan jalan dari pemerintah selaku pemegang tambuk tanggung jawab tertinggi. Akademisi juga tidak bisa mengimplementasikan hasil riset dan pengabdiannya jika tidak didukung oleh pemerintah dan masyrakat itu sendiri. Dan masyarakat tidak tidak memiliki kemampuan untuk memberdayakan dirinya sendiri tanpa ada penunjuk jalan dari pemerintah, LSM, serta akademisi. UPTD KPHP Kerinci selaku pemerintah yang menaungi masyarakat telah memb...